Minggu, 08 Juli 2012

Ketika Pelacur 'Baik-Baik' Jatuh Cinta Pada Pelanggannya


Klise. Seorang pel*cur jatuh cinta pada pelanggannya. Tapi kisahku ini mungkin sedikit berbeda dari yang lainnya. Aku bukan pel*cur biasa, tapi pel*cur 'baik-baik' yang tak perlu gincu tebal atau pakaian seksi untuk menarik lawan jenisnya. Aku hanya butuh kata menurut, itu saja.

Awalnya, kira-kira enam tahun silam, aku melacur secara 'legal', sah secara agama di mata Tuhan, dan pelangganku, adalah orang 'baik-baik' juga. Ada yang menikahiku hanya untuk semalam, ada yang hanya tiga bulan, dan sekarang malah kupasrahkan badan seutuhnya tanpa ikatan.

 Aku sendiri tak tahu, bagaimana bisa terjebak dalam kehidupan aneh yang menjijikkan itu. Dan aku sulit, bahkan rasanya tak ingin menghindar. Kettika guru spiritual yang sekaligus ayah angkatku memintaku untuk menikahi orang yang usianya jauh di atasku, aku hanya menurut saja. Sebab, yang aku tahu, tidak ada yang lebih mulia dari membalas kebaikan ayah angkatku yang konon-menurut cerita beberapa tetangga-sudah memungutku dari tempat sampah.

Aku anak buangan ! Dan itu semakin kuyakini, karena secara fisik/lahiriah aku sangat berbeda dengan ayah-ibu (yang meninggal saat usiaku 14 tahun) atau saudara angkat perempuanku yang semata wayang. Mereka berkulit coklat sawo matang, berambut ikal, sedangkan aku berkulit putih, rambut yang lurus dan legam. Hidungku mancung, bibirku mungil, agak oriental. Bila aku mematut di depan cermin, kadang aku merasa pantas bila menjadi gadis sampul yang disuka banyak orang.

Namun, kesederhanaan keluarga angkatku, baik dalam hal berfikir dan bergaya hidup, melenyapkan mimpi-mimpiku sebagi gadis remaja yang saat itu masih berusia lima belas tahun. Aku disekolahkan di sebuah pondok pesantren yang masih tradisional. Dan justru di situlah akhirnya malapetaka hidupku berawal.

Mungkin karena terlihat menonjol, cerdas, dan kata orang-orang berparas cantik, aku menjadi banyak incaran lelaki. Bukan hanya pemuda desa atau para santri di pesantren putra, beberapa pengajarkupun ternyata jatuh hati padaku. Ada yang malu-malu menyampaikan salam, ada yang mengirimkan surat cinta, ada yang iseng-iseng menggoda, namun semua tak aku pedulikan. Hanya satu yang ada di pikiranku, aku harus segera lulus dari pesantren, lalu kerja untuk membantu orangtua.

Namun, sungguh di luar dugaan, diantara banyak lelaki yang naksir padaku, ternyata Pak E, pemilik yayasan pesantren, yang mampu 'memenangkan' aku. Lelaki yang umurnya beberapa tahun lebih tua dari ayahku itu melamarku tepat ketika usiaku memasuki 17 tahun !! Padahal, setahuku, dia sudah memiliki dua istri. Ironisnya ayah angkatku tak bisa berbuat apa-apa, dia menerima saja lamaran itu setelah aku sendiri tak tega untuk menolaknya, sebagai tanda balas budi.

Jadilah aku istri ketiga pak E. Sungguh, tak pernah aku bayangkan bila akhirnya aku harus menyerahkan keperawananku pada laki-laki yang lebih pantas menjadi ayahku ! Begitu sakit, sakit di bagian kewanitaanku juga sakit di dalam hatiku ! Apalagi, ternyata Pak E itu sangat ganas, seperti binatang buas saat memperlakukan aku sebagai istrinya di atas tempat tidur. Aku tak tahu, apa itu yang dinamakan psikopat, atau hyper, atau apalah. Yang jelas, sejak awal menjadi istrinya hingga tiga bulan kemudian, aku tak ubahnya bagai budak nafsu yang setiap saat harus melayani dia, tak pandang tempat ataupun waktu.

Tapi aku mencoba selalu bertahan dengan semua itu, terlebih aku tak mau melukai perasaan ayah angkatku. Hingga suatu hari, entah karena mencium gelagat yang tidak baik dari kehidupan perkawinanku, ayahku jadi sakit-sakitan. Berulangkali dia bertanya padaku apakah aku benar-benar bahagia dengan perkawinanku, aku selalu menjawabnya bahagia. Aku tak mau menambah berat pikirnya, namun ternyata itupun tak membuat dia percaya. Dia terus terang mengaku sangat kecewa dan menyesal telah menikahkan aku dengan Pak E ..dan itu diungkapkannya tepat sebelum maut menjemputnya!!

Begitulah, seminggu setelah meninggalnya ayah angkatku, tiba-tiba Pak E, tanpa alasan yang jelas menalak cerai aku. Harusnya aku bersyukur karenanya, karena aku telah bebas .. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Aku begitu bodoh, polos, tak mengerti, tak tahu apa-apa dan siapa-siapa untuk bertanya, hingga aku menurut saja ketika Pak E kemudian menyerahkan aku pada R, seorang lelaki yang konon masih ada hubungan saudara dengan Pak E.

Dari R, aku diberitahu bila ada orang yang ingin menemui aku di sebuah wisma di kota S. Dia, kata R, adalah orang penting. Bila aku mau menemuinya untuk sebuah wawancara, dan orang penting ini suka dengan hasilnya, aku akan mendapatkan pekerjaan. Bagaikan kerbau, aku menurut saja. sekian lama di kampung, di pondok, benar-benar telah membuat aku jadi super kuper!

Dan benar saja. Di sebuah kamar, telah menunggu seorang laki-laki kira-kira berumur 50-an dan seorang lagi yang membawa sebuah buku, kitab, atau entahlah. Setelah berbincang sejenak, R pergi dan aku ditinggalkan dengan kedua laki-laki itu. Jantungku berdetak keras, ketika pandangan mata laki-laki yang satu begitu menyala, bernafsu dan seperti harimau yang siap menrkamku. Padahal, saat itu, aku tidak berhias dan ada jilbab longgar yang menutup rapat tubuhku. Aku tak sempat bertanya, bahkan seperti dihipnotis, ketika tiba-tiba aku diminta duduk bersanding dengan lelaki tua itu, dan selayaknya acara ijab kabul, aku dinikahkan oleh seorang yang satunya lagi.

Sahlah kami berdua sebagai suami istri!!! Padahal, sungguh, sampai sekarangpun aku tak mengenal 'si orang penting' itu. Dia lampiaskan semua hasratnya malam itu, setelah sang penghulu meninggalkan ruang kamar itu. Dia meraba, mencium, mengendus, menjilat, menjamah seluruh bagian tubuhku, tanpa aku berdaya ... Dia perlakukan aku sesukanya malam itu hingga akhirnya dia terlihat puas dan rebah mendengkur bagaikan seeekor beruang gila ! Anehnya, aku seperti benar-benar terhipnotis dan tak berdaya apa-apa!!

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya merasa malu ..malu pada diriku sendiri dan malah berharap tidak ada seorangpun yang tahu masalah ini. Entah karena capek atau apa, akhirnya, tanpa sadar akupun tertidur ..atau pingsan ..entahlah. Dan duh, saat kubuka mata, kembali tlah kutemukan makhluk mengerikan itu di atas tubuhku yang juga telah tak lagi memakai selembar benang. Aku ingin menjerit, ingin muntah dengan bau keringatnya, namun kesakitanku justru membuatnya semakin ....

Sudahlah, itu masa yang memalukan, sekaligus mengerikan. Toh paginya, dengan entengnya dia mengucapkan 'kuceraikan' kamu, karena di merasa seperti menggeluti mayat hidup saat bercinta denganku !! Apa peduliku??? Bahkan, aku meninggalkan segepok uang yang dia letakkan di atas kasur. Meski aku tahu, derajatku kini tak lebih dari seorang pelacur !

Akupun menggelandang tak tentu arah, ketika tiba-tiba ada ide untuk menjadi TKI terbersit. Tapi apalah daya, hidup tanpa identitas, dokumen pribadi apapun di tangan, seperti hidup di awang-awang. Semua dokumen, surat-surat identitasku ada di tangan Pak E ..dan haram najis bagiku untuk kembali menemuinya!! Aku hanya bisa tepekur, terdiam .. meski sungguh, aku tak menangis ..

Saat aku termenung di sebuah portal di depan sebuah masjid itulah aku bertemu dengan G yang baru saja kelar sembahyang Ashar. Laki-laki yang sangat biasa. Setelah berkenalan, basa-basi sejenak, kamipun berbincang .. Oh rupanya di seorang wartawan! Tiba-tiba aku takut .. khawatir salah omong, nanti aibku terbongkar, terpajang di koran !! Karena itu aku berusaha semaksimal mungkin untuk berbohong. Aku bilang berasal dari kota J dan kehilangan semua surat berharga termasuk dompetku ketika perjalanan menuju kota Jkt. G, sepertinya percaya saja. Mungkin karena melihat parasku yang innocent.

Dia lalu mengajakku ke rumah kakaknya yang janda, IR dan diinapkan sementara di sana. Dan G sendiri, ternyata sudah beristri serta memiliki seorang anak laki-laki yang masih kecil. Ya sudahlah, tanpa sengaja, aku telah dipertemukan dengan dewa penolongku, bahkan akhirnya, seiring berjalannya waktu, aku telah menjadi sahabat bagi mbak IR. Kami berdua, nampaknya cukup kompak, sehingga, meskipun aku mencoba memposisikan diri sebagai pembantu (yang terima bayaran tiap bulan), namun mbak IR memperlakukan aku seperti saudara. Bahkan dia kelihatan jauh lebih 'menyayangiku' daripada dengan adik iparnya sendiri, istri G yang juga sudah kenal dekat denganku.

Inilah masalahnya. Aku tak bisa memungkiri, mulai jatuh cinta dengan G yang begitu baik, sopan, perhatian, dan mengajarkan aku pada hal-hal, ilmu pengetahuan yang sebelumnya sangat awam bagiku. Dia laki-laki yang baik, pintar, dan tampak sangat bertanggungjawab kepada keluarganya. Aku benar-benar jatuh cinta dibuatnya. Dan nampaknya, cintakupun tidak bertepuk sebelah tangan. G ternyata merasakan hal yang sama. Aku tahu betapa Anda pasti akan menyumpahserapahi aku, tapi apa yang bisa kulakukan ketika hasrat dalam hati ini tak terbendung?

Pernah suatu kali, kami saling berbincang, berpelukan, bertangisan, tak tahu apa yang harus kami berbuat. Hingga akhirnya, kembali lagi kesalahan fatal itu terulang! Aku begitu bodoh, naif, lemah iman, sehingga tanpa sadar aku dan G melakukan perbuatan terlarang itu, berkali-kali di rumah mbak IR ! Ya Tuhan ...apa yang telah aku lakukan, ternyata aku memang telah melabelkan diriku menjadi seorang pelacur!! Aku begitu buta oleh cinta .. Dan hingga saat ini, aku masih saja tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menebus segala ..Melegalkan hubungan kami, menjauh dari kehidupan G, atau melanjutkan semua keadaan ini ..seperti adanya ...

Aku tahu, aku berdosa, aku bersalah, tapi tak bolehkah aku menerima sebuah risalah ..???



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar